Langsung ke konten utama

Cerita di balik Hujan

 Siang dan sendirian. Aneh sekali rasanya berjalan melewati pintu gang, menuju halaman belakang, naik tangga, membuka pintu kost, hanya mendengar suara langkah kaki sendiri. Ya, malam minggu seperti ini mana ada yang betah di rumah, semuanya pasti memanfaatkan waktu luang ini untuk berlibur bersama keluarga.
 Di sela-sela menikmati pastel Ma'Cik yang tadi saya beli di acara STAN Culture & Food Fest 2011, tiba-tiba hujan deras. Bukan dingin yang terasa tapi malah ada hawa hangat yang menyelimuti. Tenang sekali rasanya, sepertinya hujan bisa berkata, "Tenang, aku akan melindungimu."
 Ingat sekali, dulu sebelum masuk ke dunia perkuliahan, setiap hujan, takut sekali rasanya. Padahal saat itu saya sedang ada dirumah, tapi saat masuk ke kamar, ingin sekali cepat-cepat mengambil bantal dan bersembunyi di balik selimut. Yah, saya akui, saya memang penakut. Saya tidak suka mendengar hal-hal yang menyeramkan. Sepertinya berbeda jauh dengan adik saya yang lebih pemberani,hehe. Ditambah lagi bila ada suara petir, tangan pasti mulai basah,dan detak jantung bertambah cepat. Sebuah ketakutan yang tidak bisa digambarkan,entah kenapa dan karena apa. Padahal waktu saya kecil, saya benar-benar senang main air disaat hujan, bermain di halaman bersama teman-teman sambil hujan-hujanan. Saya sampai lupa kapan saya mulai takut hujan.
 Semenjak kuliah, jauh dari orang tua, saya mulai membiasakan diri,mencoba memberanikan diri dalam hal apapun. Memang kalau dalam urusan mengurus diri sendiri,saya sudah terbiasa dari kecil. Tapi tetap saja saya masih belum bisa menghilangkan sifat penakut saya. Sampai saya pernah kesal sekali ketika salah satu teman saya tanpa sengaja bercerita hal-hal yang berbau mistis. Untungnya teman saya itu mengerti dan tidak pernah menceritakan hal-hal yang menyeramkan lagi pada saya. Dan pernah suatu ketika,minggu pertama di Bintaro, hujan deras dan itu malam hari. Tiba-tiba saya refleks mengambil bantal dan selimut. Lama sekali saya terdiam. Aneh. Hujan deras, petirnya keras pula. Seharusnya saya takut. Tapi untuk pertama kalinya setelah saya takut hujan, saya merasa tenang. Tangan saya tidak berkeringat, benar-benar nyaman sekali. Hujan seperti tau rasa takut saya. Hawa hangat pelan-pelan menyelimuti perasaan saya. Seperti membawa sebuah rasa aman, persis seperti ketika kita berada di pelukan ibu kita. Rasanya, tidak akan ada yang bisa mengganggu kita. Memang lebay sih kedengarannya, tapi itulah yang benar-benar saya alami.

 Hujan membuat saya bisa mencurahkan isi hati saya. Meluapkan kesedihan tanpa di dengarkan oleh orang lain, meluapkan rasa senang tanpa mengganggu orang lain. Ya, saya kembali menyukai hujan. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

26 Maret 2011 - Jakarta Earth Hour 2011

Hai, you know what? Malam ini saya gelap-gelapan,gelap gulita,eh nggak gelap-gelap amat sih,kan laptopnya nyala..hehehe karena pemadaman listrik? Bukan. Karena hari raya Nyepi? Jelas bukan,Nyepi kan udah lewat. Hari ini, pukul 20.30-21.30WIB diadakan Jakarta Earth Hour 2011. Kata spanduk yang tadi saya baca di jalan raya,diharapkan masyarakat untuk memadamkan listrik selama 1 jam untuk mengurangi pemakaian listrik. 1 jam? 1 jam aja? Sebenarnya waktu 1 jam menurut saya hanya sebentar aja sih, tapi coba aja kita bayangkan, kalau dalam 1 jam yang notabene merupakan rentang waktu pemakaian listrik terbanyak ini kita bisa mengurangi pemakaian listrik,pasti kita bisa menghemat pasokan listrik yang bisa dipakai untuk disalurkan ke daerah-daerah terpencil. Kan masih banyak saudara-saudara kita yang mungkin saja malam ini sedang belajar dan cuma mengandalkan cahaya lilin. Eh iya,maaf sepertinya saya sudah ngelantur terlalu jauh nih,saya hanya ingin berbagi pelajaran yang saya dapat dari Earthho...

Just Like A Sunflower

“Bunga matahari selalu mengikuti kemana arah matahari.” --- Hujan tadi sore menemani saya menikmati segelas teh hangat dan roti coklat. Akhirnya saya selesai membaca “Morning Light”.   Sebuah buku hadiah ulang tahun dari sahabat saya. Buku, hadiah tepat yang benar-benar saya sukai. Buku ini menyadarkan saya, bahwa kadang kala, kita bersikap layaknya bunga matahari, selalu mengikuti kemana arah matahari. Setiap orang pasti memiliki panutan dalam hidupnya. Seorang panutan yang benar-benar ia banggakan. Seorang panutan yang ingin ia raih.   Aku mengaguminya, salut padanya setiap waktu, hingga tanpa sadar, berusaha mati-matian untuk menjadi seperti sang matahariku. Berusaha demikian kerasnya, berharap bisa meraihnya.   Melakukan apa yang dia lakukan, menyukai apa yang dia sukai, mengikuti caranya berpikir, begitu terpesona hingga tak sadar hanya mengejar bayang-bayang matahariku. Menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendongak padanya hingga sadar akan kemampuanku sendiri. Hin...